Dokrin Sunni dalam Kurun Sejarah

Dokrin Sunni dalam Kurun Sejarah

Mengutip suatu peristiwa tak kan lepas dari perjalanan historis tentang kapan peristiwa itu di mulai. Abu Hasan Al-Asy’ari dan Al-matudridi misalnya, mereka berdua dalam salah satu dokumen sejarah adalah orang pertama yang membuat tentang doktrin-doktrin akidan sunni saat itu. Yang sekrang di ikuti oleh mayoritas penduduk Indonesia.
Begitu juga menilik suatu ideologi tentang suatu akidah masih butuh di telusuri dengan dokumentasi sejarah, mulai dari awal berdirinya dan generasi selanjutnya. Salah satunya adalah Ahli-sunnah wal-jamaah yang lebih terkenal saat itu dengan sebutan sunni. Pada awal kemunculannya, golongan ini lebih tersohor dengan sebutan Salafiun (orang-orang yang mengikuti Nabi, Sahabat ),yaitu adalah di zaman para tabiin. Di antara tokoh-tokoh saat itu adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin abbas, Hasan Al-basri,Umar bin abdul aziz, dan imam Abu Hanifa. Tokoh-tokoh sunni saat itu mengedepankan doktrin yang nengah menengah.
                Dan setelah beberapa kuru dan waktu bejalan. Pemikiran sunni terus berkembang dengan mengikuti situasi dan kondisi. Pemikiran-pemikirn ini di teruskan oleh generasi setelah tokoh-tokoh di atas, dan menjadi cendikiawan yang cerdik saat itu. Di antara adalah Al-Muhasibi, dan di lanjutkan oleh Ibnu Kullab yang saat itu terjad peperangan politi
                Setelah beberapa dekade, lalu muncullah generasi selanjutnya dari tokoh salafiun yang mematahkan semua argumentasi Mu’tazilah. Yaitu adalah Abu Hasan Al-Asy’ari yang sebelumnya adalah penaganut Mu’tazilah dan Al-maturidi cendikiawan yang mahir dalam bermain logika. Barulah setelah munculnya mereaka berdua golongan salafiun lebih terkenal dengan sebutan ahli sunnah wal-jamaah (sunni).
                Dan setelah pemikiran-pemikiran sunni trus berkembang sesuai dengan konteks yang melingkupnya ,mulai dari pasca para sahabat sampai paca Al-Asy’ari, lalu pemikiran ini di lanjutkan oleh Imam Haromain, Imam Al-Ghozali, Al-syahratstani, ar-rozi dan sampai Zaini Dahlan. Dan di kembangkan oleh KH.Hasyim Asy-ari di Indonesia yang lebih terkenal dengan Nahdhtul Ulama (NU)
                Dalam konsep pemikiran tokoh-tokoh di atas memberikan kontribusi pemikiran di dunia islam, yang mengedepankan teori Tawassuth, Tawazun, I’tidal, dan tasamuh. Misalnya Hasan Al-Basri yang saat itu hidup di tengan iklim politik tidak menampakkan sikap yang konfrontatif atau sebealiknya Akomodatif. Begitu juga yang di lakukan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari membuat teori pemikiran kombinasi antara dalil Naqli dan dalil Aqli.







Share this

Related Posts

Previous
Next Post »