Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Khadijah di Masa Kini, Mungkinkah?



Berbicara tentang perempuan. Berbicara tentang keindahan. Sebagai perhiasan yang penuh dengan sejuta pesona. Pembahasan tentang perempuan tidak akan ditemukan kata Bersambung. Ia akan selalu menjadi sorotan kaum adam. Dimana pun ia berada, ia akan selalu menjadi target buruan kaum adam untuk dijadikan tulang rusuknya.

Disisi lain, perempuan merupakan bangunan yang kokoh yang mencetak produk-produk kemanusiaan yang handal. Tak jarang kita lihat, dibalik orang-orang besar dan tokoh-tokoh berpengaruh di Dunia, ada seorang wanita dibelakangnya. Meski secara fisik ia lemah, tapi jiwa dan hatinya besar. Meski secara tuturkata lembut, tapi ucapannya bisa menaklukkan “Raja” sekalipun. Ibarat permata. Meski terbentuk dari partikel benda badat dari tanah, ia bisa menjadi perhiasan yang indah dan dapat menghipnotis setiap mata orang yang memandangnya.

Pada zaman era teknologi sekarang, tidak bisa pungkiri, jumlah perempuan di Dunia melonjak drastis. Populasi disetiap sektor negara didominasi oleh kaum hawa. Mereka bukan hanya menghiasai dapur dengan pekerjaan rumahnya. Bukan juga hanya menjadi sandaran banyinya ketika tidur. Melainkan ia menjadi dua sosok sekaligus, menjadi ibu rumah tangga dan menjadi tulak rusuk keluarga. Ia juga mengisi job  kantor untuk mencari nafkah anak-anaknya. Tapi hal itu, bukan menjadi halangan untuk menjalani rel kehidupan.

Dalam Islam, sosok itu tergambar dalam diri istri baginda Nabi Muhammad saw., ialah Khadijah binti Khuwailid. Sesosok saudagar kaya raya, berparas cantik, bernasab baik, dan berakhlaq mulia. Kesetiaannya mendampingi Nabi, telah menjadi bukti historis dalam penyebaran ajaran Islam di kota Mekkah saat itu. Meski usianya yang lebih tua dari Nabi, ia tetap bersikap menjadi seorang istri idaman yang selalu setia menemaninya. 

Maka tak heran, Nabi memilihnya sebagai istri pertamanya. Bukan seperti pemuda saat ini; paras cantik dan body yang seksi menjadi salah satu kreteria calon pasangannya. Tapi Nabi tidak. Beliau melihat ia adalah sosok wanita yang sabar, ikhlas, penuh percaya diri, dan dapat memberikan sport dalam menyebarkan dakwahnya. Sikap itulah kenapa Nabi memilih Khadijah sebagai istri pertama. Bukan yang lain!

Begitu juga, bukan seperti kelompok kaum feminis yang mengaku bahwa semua hak dalam kehidupan harus disamaratakan antara laki-laki dan perempuan. Apa yang menjadi hak laki-laki harus dimiliki oleh perempuan. Dalam Islam ada porsi tersendiri dan batasan bagi keduanya yang terkadang manusia belum bisa mengerti (ghairu al-ma’qul al-ma’na). Ada hikmah dibaliknya yang menjadi bekal pahala bagi pemeluknya, ketika perempuan berada ‘dibelakang’ laki-laki.

Semisal, secara de pacto, perempuan diciptakan dengan keindahan fisiknya. Oleh karena itu, dalam shalat perempuan tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki. Sebab akan menjadikan hilangnya konsentrasi (khusus’) bagi laki-laki ketika sholat. Sedangkan dalam pernikahan, perempuan tidak boleh menjadi wali dalam akad nikah (Ijab-qabul). Sebab dalam penyerahan calon pengantin, seorang perempuan memiliki emosional yang tinggi. Sehingga sifat ragu-ragu, tidak pasrah, merasa kasihan, dan lain sebagainya akan selalu menyelimuti mereka. Berbeda dengan kaum adam. Secara watak (tabiat), laki-laki memang diberi kelembihan tersendiri dalam sikap emosional.

Hal itu semua, tidak berlaku dalam ranah spiritual. Al-Quran telah menegaskan bahwa orang yang bertaqwa tidak melihat jenis kelamin (QS. Al-Hujarat [49]: 13). Orang yang berhak berada disurga-Nya adalah orang yang memiliki totalitas penuh dalam beribadah. Ibadah yang dimaksukdan adalah bukan hanya ibadah shalat saja dan beberapa kegiatan spiritual lainnya. Berkarir juga termasuk dalam ibadah, apabila tujuan dan niatnya adalah untuk mendapat ridha-Nya.

Khadijah Wanita Idaman
Khadijah adalah istri pertama yang sangat dicintai oleh Nabi. Ini terungkap dari ungkapan istri Nabi, ‘Aisyah r.a., “Aku tidak cemburu dengan istri-istri nabi, dan aku tidak cemburu pada Khadijah. Akan tetapi Nabi selalu menyebut namanya (disetiap saat). Terkadang Nabi menyembeleh seekor kambing (untuknya), lalu menaruhnya di shada’iq (kamar)nya. Saat itu aku bekata pada Nabi, “Apakah tidak ada wanita lain (yang paling istimewah) di dunia ini kecuali Khadijah?”., Nabi menjawab, “Sesungguhnya ia (Khadijah) telah setia menemaniku dan berbuat banyak untukku. Dan aku telah memiliki anak darinya.” (HR. Bukhari)

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw. tidak mencintai Khadijah?, sedangkan Nabi selama menjalani kehidupan dengan membawa beban sebagai utusan Allah, Khadijah selalu berada disampingnya dan menemani baginda Nabi Muhammad saw. disetiap saat. Ini terbukti dari pengakuan Nabi Muhammad saw. sendiri, “Aku ditakdirkan untuk mencintainya (Khadijah)”. (HR. Muslim).

Kecintaan itu tergambar dalam bahtera kehidupan keduanya. Bagaimana tidak?, Khadijah dengan kekeyaannya yang melimpah menikah dengan sesosok manusia yang memiliki finansial yang minim. Ia rela harga dirinya dihina oleh orang-orang Quraisy saat itu. Sebab pada waktu itu, seorang perempuan yang ingin menikah harus sepadan (kafaah) dengan calon suaiminya. Tapi itu tidak menjadi halangan baginya untuk mencintai dan menikahi Nabi. Ia rela meninggalkan kekayaannya untuk berjuang bersama dengan Nabi dalam menjalani kehidupan yang diridhoi oleh Allah. Cinta adalah segala-galanya!.

Konon, pertemuan pertama Nabi Muhammad saw. dengan Khadijah, ketika Khadijah mendengar bahwa salah satu pedagangnya adalah orang yang jujur, bertanggung jawab, memegang amanah, dan memilik akhlaq yang mulia. lalu Khadijah memanggil nabi dan memerintahkan untuk membawa barang dagangan ke Syam (Syiria) ditemani oleh Maisarah. Setelah kembalinya dari Syam untuk menyerahkan keuntungan dagangannya, Maisarah menceritakan kisah selama perjalannya bersama Nabi. Ia melihat Muhammad adalah sosok yang istimewah. Memiliki akhlaq yang mulia. dan dapat dipercaya (amin).

Khadijah dan Wanita Masa Kini
Berbicara wanita pada zaman sekarang, terlintas dalam benak kita, wanita yang matrealistis, wanita yang lebih mementingkan karir dari pada keluarga, dan wanita yang hidup dengan perhiasan dan baju-baju trend yang mengikuti zaman. Pandangan ini setidaknya bisa kita lihat dibeberapa media, baik media teletivi, media cetak, dan media sosial. Berjuta foto ala gaya zaman now, selfi disetiap saat, baik yang muda sampai dengan dewasa, terpajang dilayar-layar handphone kita.

Dari pandangan hidup era melenium saat ini, wanita juga tidak mau berdiam diri dirumah. Ia harus memiliki karir yang tinggi, penghasilan yang banyak, mempunyai suami yang kaya raya, dan lain sebagainya. Karena naiknya bahan pokok dan kebutuhan yang semakin hari semakin bertambah. Seperti; perwatan wajah, pergi ke salon, shoping, dan lain sebagainya.
Memang, wanita bukan hanya sesosok yang harus menjaga rumah saja. Akan tetapi, pola pikir tentang kehidupan matrealistis di zaman sekarang ini malah menjadi proglem. Proglemnya adalah ketika mereka berusaha untuk mencapainya dengan menggunakan berbagai cara yang terkadang keluar dari norma dan moral.

Coba kita lihat, efek dari pandangan itu. Ia rela martabat dan kehormatannya hilang demi sebuah ‘kertas’ yang bernilai secara materi, tapi tidak bernilai secara moral. Buya Hamka dalam bukunya Dari Hati Ke Hati, “Perempuan saat ini berlomba-lomba merebut kehidupan matrealis. Alat-alat penghias diri, alat-alat kecantikan lebih mahal. Kemudian muncullah lomba kecantikan, memperagakan diri, lomba ratu-ratuan. Perempuan muda yang cantik tampil kemuka mendedahkan (memamerkan) dada, pinggul, dan pahanya, ditonton bersama dan diputuskan oleh juri siapa yang lebih cantik lalu diberi hadiah."

Setidaknya begitulah potret suram wanita saat ini. Tapi bukan hal yang gak mungkin. Ada beberapa wanita yang masih bisa menjaga kehormatan dan tidak tertipu dengan kenikmatan Dunia. Anggap saja “Khadijah” masa kini.

Coba kita flash back pada masa 50 tahun lalu. Wanita masa itu terlihat jelas disekitar kita. Ibu, nenek, buk lek, dan selainnya yang lahir pada waktu itu, terkadang berkisah dan berbagi kehidupan mereka pada waktu itu. Tak jarang mereka berkata, “Kalo dulu nak, ibu gak berani keluar malam. Takut dipukulin sama nenek”. Atau “Dulu nak, ibu sama nenek jualan sambil berjalan keliling kota”. Dan sebagainya.

Dari secercah kisah yang penuh makna itu, bisa kita lihat mereka dengan tulus dan usaha yang ikhlas untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya. Rasa keluh dan resah bukan menjadi tempat aduan penyesalan. Mereka melihat dibalik itu ada berkah yang tersimpan di dalamnya, maka tak heran kadang mereka berkata, “Dulu kakek sama nenek susah nak. Tapi sekarang ibumu sudah sukses. Bisa menyekolahkan anak-anaknya. Beda sama kakek dan nenek dulu. Tamat SMP aja susah!”.

Perjuangan wanita masa dulu menjadi bukti bahwa pendidikan moral adalah tempat untuk menjadikan wanita sebagai pendidik pertama bagi anaknya. RA Kartini contonya, seorang tokoh yang menjadi inspriator para wanita, dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, menulis, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

Senada dengan pepatah ulama, “Ibu adalah tempat pendidikan pertama (madrasah ula)”. Sebab keutamaan seorang wanita adalah mencetak generasi-generasi selanjutnya. Ibarat taman. Jika ia selalu disiram maka apa yang dihasilkan akan terlihat indah dan rindang. Dan sebaliknya, bila tidak disiram. Maka akan layu dan akan mati.

Semua itu, bisa saya simpulkan ada dalam diri Khadijah, istri Nabi Muhammad saw. Rasa tulus, ikhlas, berakhlaq mulia dan juga berjuang bersama Nabi demi terciptanya umat/generasi yang bermoral dimasa depan yang adalah bukti sesosok wanita yang istimewah.

Jangan sampai kita mengharap wanita-wanita yang berkualitas, namun lupa terhadap dirinya sebagai pencetak generasi muda. Lupa pada dirinya, sehingga dengan segala cara ia relakan dirinya demi sebuah ‘kertas’ tanpa nilai moral didalamnya. Jangan harap ‘Khadijah-Khadijah’ masa kini muncul, namun mereka tetap tidak peduli dengan perjuangan yang didasari dengan rasa tulus, ikhlas, dan akhlaq yang mulia.

Ketika Mimpi Hanya Sebatas Hanyalan



Wahai Tuhan-Ku, di langit, bintang gemintang makin redup. Berjuta pasang mata terlelap. Dan raja-raja telah menutup pintu gerbang istananya. Begitu juga para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tapi kini aku bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu. Karna telah ku serahkan cintaku hanya untuk-Mu”. 

Ujar sang penyair dari Negeri seribu satu malam, Bashra (Irak). Ia adalah Rabiah al-Adawiyyah dari klan al-Atik suku Qays bin ‘Adi. Dengan menggunakan irama bahasa yang memiliki makna yang dalam, si Rabiah tidak segan-segan bermetafora. Ia seakan bermesra di jalan-Nya, berjalan di atas takdir-Nya, berusaha untuk mencapai puncak makrifat dengan konsep cintanya, hingga berpertemu dengan kekasihnya -Illahi Rabbi-.

Mungkin benar kata Kahlil Gibran, “Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian. Hanya saja ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya.” Meski satu-satunya alasan kita menjalin hubungan dengan orang lain justru adalah demi kepentingan pribadi.

Berbeda dengan Râbiah, ia seakan diselimuti cahaya Tuhan (Rubbâniyyah) tanpa menghiraukan apa yang ada disekitarnya. Ia akan selalu tegar dan akan terus berusaha untuk mencapi puncaknya, yaitu pertemuan dengan Sang Kekasih yang abadi.

Begaiman mana dengan kita? Terkadang kita hanya merasa iba pada diri sendiri. Bersifat egois, memaksa kehendak. Entah itu hanya sebatas perasaan belaka atau hanya rasa takut pada diri kita. Bagaimana tidak, ketika kita mengharapkan sesuatu yang kita inginkan dan tidak mendapatkannya, kita merasa sedih dan galau dengan kesendiriannya. Seakan hanya kita yang gagal, “Suatu impian yang melewati batas takdir Tuhan."

Hati ibarat lentera dengan cahaya yang redup. Sewaktu-waktu cahaya itu akan hilang dengan sendirinya tanpa kita sadari. Dan akhirnya akan menjadi gelap-gulita. Buta akan kebenaan, menyampingkan takdir, gampang tertipu dengan tipu daya setan. 
Coba kita lirik, Al-Quran yang menjadi petunjuk jalan bagi kita. Ia sudah memberikan solusi yang tepat agar hati menjadi tenang dan terang benerang. Kita dianjurkan bedzikir dan bermunajah kepada Allah (QS. Ar-Ra’d {13}: 28). Dengan berdzikir kita akan selalu ingat balasan pahala dan ancaman siksaan Allah.

Tentu itu semua harus melalui  proses yang panjang. Hujjatu al-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Mukasyafah al-Qulub yang menerangkan tahapan agar hati dekat dengan-Nya sebanyak 111 bab, beliau memulai dengan Khauf (rasa takut), sebab dengan adanya rasa takut pada Allah, kita sadar bahwa kita hanya sebatas hamba sahaya yang lemah yang tidak lain adalah  untuk liya’budun (beribadah).

Sungguh keliru jika ada anggapan bahwa hati bisa tenang dengan memuaskan diri, mencari kenikmatan dunia sehingga hilanglah rasa sedih dan mencari jalan dengan bantuan makhluk lemah. Alangkah indah lantuan kata Rabiah, “Engkau –Allah-, wahai hidupku!!, wahai harapanku!!, tanpa enkau aku tiada di atas bumi ini”.

Ketika telah meresap dalam hati, Dia (Allah) akan menjadikan hati itu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang. Yang keras beralih lunak, yang kasar menjelma lembut, yang kering berubah jadi basah, yang liar menjadi jinak. Tiba-tiba pandangan mata, sentuhan tangan, pembicaraan, gerak anggota badan, dan getar hati menjadi sebuah simfoni. Semua menjadi lantunan irama belas kasih Allah pada Hambanya.

Jangan Takut Menikah Mida: Antara Hak Asasi Manusia & Hak Asasi Syariat.


"Abi tidak rela api sekecil korek api sekalipun menyentuh tubuhmu nak, apalagi api neraka jahanam, Inilah yang membuat abi membuka jalan pernikahanmu, karna ingin Alvin, abi dan kita semua selamat. Abi tidak ingin hati, pikiran, mata dan telinga berbuat maksiat!". Pesan KH. Arifin Ilham kepada M. Alvin (Putra sulungnya).


Nikah bukan sekedar tinta hitam di atas putih. Bukan sekedar sidang di pengadilan agama. Bukan pula sekedar surat tanda nikah di KUA, melainkan nikah adalah hak setiap umat manusia untuk menjalani ibadah dan sunnatullah. Sebab dalam pernikahan terdapat suatu berkah, dapat membuka rizki dan membuka pintu keselametan dari perbuatan dosa dan maksiat. 

Nikah juga bukan hanya hak setiap manusia, melainkan merupakan hak syariat kepada umat Islam selama menjalani kehidupan di dunia dan akhirat dengan baik. Dalam fiqh tradisional, para ulama mengkhususkan bab nikah dengan bertujuan bahwa suatu pernikahan merupakan konstruksi syariah yang harus dilaksanakan untuk menjaga dari perzinaan. Bukan hanya material yang harus di perhatikan bahkan ketakwaan dan ibadah yang menjadi prioritas dalam agama. Sebab dalam pernikahan seorang suami akan menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya untuk lebih dekat kepada Allah.

HAM yang orientasinya kepada prinsip-prinsip moral atau norma-norma humanis bukan standar kemanusiaan yang sebenarnya. Tanpa ada agama suatu kehidupan akan menjadi sekuler. Begitu juga halnya dengan nikah, bukan hanya terbatas pada harta, dan jabatan yang menjadi tolak ukur. Melainkan Akhlak dan uswah hasanah yang menjadi manusia yang hakiki. 

Beberapa hari yang lalu kita di kejutkan dengan pemberitaan pernikahan Alvin putra sulung KH. M. Arifin ilham yang memiliki paras tampan. Bukan karna ia artis atau yang lainnya melainkan ia berani mengambil keputusan menikah di usia mudah (17 tahun). Alvin menjadi salah satu orang yang berani membuktikan bahwa nikah muda bukanlah hal yang menakutkan. Masalah menikah bukanlah di umur melainkan seberapa siap mereka menjalani, bukan pula di mana ia sekolah, bekerja dan apa yang ia miliki, melainkan dimana ia siap untuk menjadi imam keluarganya. Alvin yang masih muda membuktikan jika dirinya sudah siap untuk menempuh rumah tangga dengan wanita pilihannya. 

"Kekecewaan terbesar seorang suami adalah ketika istrinya mendapat pujian, godaan atau gombalan dari laki- laki lain. Kekecewaan terbesar seorang suami adalah ketika sang istri memposting foto/video dirinya di hadapan publik yang akhirnya bisa jadi kenikmatan publik terlebih untuk kaum lelaki,"

Nah, bagaimana dengan mu? udah siap nikah?.





Sidogiri, Aku Baik-Baik Saja, “Sidogiri saiki, Sidogiri biyen”



“Sidogiri . . . guru ku,
            Kan selalu ku rindu ….
Sidogiri . . . ku sayang,
            Kan salalu ku kenang ….
Dari awal sampai akhir zaman,
            Pesantren mu berkibar.
Dari awal sampai akhir zaman,
            Kan selalu ke kenang.”

Itulah, yang aku dengar. Lirik lagu yang dibaca pada ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke 268. Betapa bangganya aku, ketika aku masuk ke alam yang penuh dengan nuansa keilmuan, Sidogri. Dan, betapa berungtungnya aku telah ditolong oleh kekasih-kekasih Allah I menuju jalan lurus yang penuh dengan berkah.

Mungkin aku sempat bertanya pada diriku sendiri “Sidogiri, Ada Apa Denganmu?, Sidogiri. Benarkah Kamu Berubah? Sidogiri Apakah Kamu Sakit?” ataukah cuman gejolak hati, atau bahkan hanya sekedar pertanyaan yang tak penting?

Saat aku melihat realita yang ada, memamg keadaan Sidogiri sekarang ‘berbeda’ dengan yang dulu. Dulu, santri masih menanak dengan kayu bakar, tapi sekarang di Sidogiri santri dengan mudah dan praktis bisa mendapatkan makanan di unit-unit kopontren. Dulu, ketika santri bercengkrama dengan kitab lusuh, mereka hanya ditemani sinar lentera lampu tradisional (Red: Madura, Demar), sekarang zaman telah menyulap Sidogiri menjadi terang benderang, tentu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Ah, Sidogiri. Benarkah kamu telah berubah? Sehingga santri-santrimu juga berubah. Tidak ! Aku sangat yakin kamu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Karena, tujuanmu hanya satu; mencetak santri sebagai  ibâdillâh as-shâlihîn. Sebagaimana yang ditanamkan oleh para Masyayikh terdahulu. Saat al-Faqir masih duduk di bangku ibtidaiyah, pernah mendengar guruku berkata, “Kiai Hasani Nawawi pernah dawuh, ‘Sidogiri Saiki, Sidogiri Biyen” (SIDOGIRI SEKARANG, SIDOGIRI YANG DULU). Waktu itu, aku bertanya-tanya. Apa maksud dawuh beliau?. Al-Hamdulillah al-Faqir mendapat jawabannya. Yaitu interpretasi dawuh al-Maghfirullah Kiai Hasani itu adalah sampai kapan pun tujuan luhur sekaligus identitas Sidogiri adalah mencetak santri sebagai “ibâdillâh as-shâlihîn”,serta berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunah Rasul.

Menurut al-Fakir, Sidogiri tak ubahnya sepetak sawah yang ditanami padi. Meski terlihat kotor dan risih dimata orang-orang berdasi atau siapa saja. Tapi ketika dilihat lebih dekat, maka akan tampak biji-biji harapan yang siap dipetik dan dirasakan hasilnya.
Jadi, bukan seperti Gunung, yang dari jauh tampak indah, rindang, sejuk dan mendamaikan, padahal dari dekat, dibalik pohon-pohon rindang itu terdapat tepian tebing yang terjal, serta banyak bebatuan. Di sana juga terdapat hewan spesies yang mematikan, bahkan ternyata gunung yang tampak tenang bersatatus aktif yang siap meletus dan mengeluarkan laharnya kapan saja.  Sebagaimana kata saudara kita, Zainuddin Rusdy dalam tulisannya yang berjudul “Sidogiri. Ada Apa Denganmu?” yang dimuat di Mading Himmah edisi ke-134 Dzul Qa’dah 1433 H.

Setelah melalui proses panjang (hampir 3 Abad). Mungkin mata masyarakat membaca Sidogiri saat ini sebagai pesantren paling modern, atau bahkan pesantren bertaraf Internasional. Secara zahir penilaian ini bisa kita benarkan. Dengan gedung-gedung mentereng, dan fasilitas-fasilitas elit. Kita tidak bisa memungkirinya.

Namun, tampak tabu dan tidak penting bagi Sidogiri. Sebab, yang terpenting adalah tujuan ‘batin’nya yaitu mencetak santri sebagai pribadi mulia dan sebagai ibâdillâh as-Shâlihîn. Maka, sangat pas bila karakter salaf begitu kentara dan mengakar di tubuh Sidogiri. Maka sekalai lagi, “Sidogiri saiki, Sidogiri biyen.”.

Realita saat ini memang mengindikasikan gejolak perubahan pada tubuh santri Sidogiri. Tapi semua itu, sama sekali tidak mempengaruhi tujuan Sidogiri. Ingat dan sadarlah! bahwa di Sidogiri apapun tidak bisa diukur secara matematis. Sidogiri penuh dengan berkah, tapi juga sebaliknya. Sidogiri memiliki peraturan-peraturan yang mesti ditaati, dan Sidogiri juga mempunyai larangan-larangan yang mesti dihindari. Secara zahir, khidmah menjadi ‘tukang sapu’ tampak hina dimata kita, ternyata begitu indah bagi Masyayikh. Sungguh Sidogiri memang tidak bisa diukur secara matematis. Falâ Taghfil!